Pages

Rabu, 08 Februari 2012

ABDUL LATIEF

SUKSES BISNIS DENGAN GAYA YANG TRENDI DAN MODIS


Abdul Latief lahir pada tanggal 27 April 1940    di    Kampung    Baru, Banda Aceh. Anak keenam dari sembilan        bersaudara        ini, dibesarkan  di  tanah  rencong  itu. Dua     puluh     tahun    sebelumnya,
ayahnya meninggalkan Tanah Minang, dan menetap di Aceh sebagai pedagang. Ayah dan Ibunya dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah    di    Aceh.    Sayang,     ayah    Abdul    Latief meninggal tatkala ia berumur empat tahun. Dalam suasana pergerakan mempertahankan kemerdekaan dan perjuangan rakyat Aceh itu, Abdul Latief dibesarkan oleh ibunya. Karena dibesarkan dalam zaman-zaman perjuangan dengan suasana politik yang panas, Abdul Latief bercita-cita jadi politikus di kemudiah    hari.     Namun,      ibunya    mengarahkan     menjadi saudagar yang bersifat nasional seperti ayahnya. Ibu Abdul Latief adalah juga pejuang hidup, pada tahun 1950 ia membawa     Abdul        Latief    bersaudara    pindah        ke    Jakarta, berharap bisa berubah nasib di ibukota. Itulah sebabnya masa Remaja  Abdul  Latief  diwarnai  dengan  kehidupan  Remaja

Betawi.    Ia    menyelesaikan    pendidikan    Sekolah    lanjutan pertama dan atas di Jakarta. Ia kuliah di APP kemudian mengambil sarjananya pada tahun 1965 di Fakultas Ekonomi Universitas  Krisnadwipayana,  Jakarta.  Selama  tahun  1945 dan 1966, situasi politik nasional sedang kacau. Demonstrasi- demonstrasi memenuhi jalan  raya.  Abdul  Latief  mengambil peran memasok makanan pada demonstran itu. Situasi belum pulih, tapi Abdul Latief diberi kepercayaan untuk mempelajari manajemen toserba dan supermarket di Seibu Group, Tokyo. Sebalik pulang Sekolah dari Jepang itu, ia lalu melangsungkan pernikahannya dengan  Nursiah,  gadis  tetangga  di  Jakarta, pada tahun 1967.
Ada sebagian orang menyebut Abdul Latief, Dirut Alatief Corporation, masih aktif sebagai tokoh muda. Padahal, umur pendiri organisasi Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) itu sudah lebih setengah abad. Setidaknya, ada dua alasan kenapa ia masih dianggap aktivis Pemuda. Pertama, dalam berbagai kegiatannya, Abdul Latief selalu terlihat segar dan sangat bersemangat. Kepeloporan dan idealisme    mengangkat    pengusaha    kecil,    terutama    yang berkaitan dengan bisnisnya, sering ia lakukan dengan gaya orang  muda  yang  mampu  melihat  jauh  ke  depan.  Kedua, Abdul Latief yang penampilannya setiap hari selalu trendy dan modis ini, sangat gemar berolahraga. Sehubungan dengan itu,

ia juga rajin menjaga kondisi fisiknya, sehingga wajahnya kelihatan jauh lebih muda dibanding usianya. Abdul Latief memang terkenal lihai menjalin kerjasama dengan banyak orang.  Ia  sangat  dipercaya  oleh  mitra  bisnisnya.  Bahkan, rekan bisnis di luar negeri pun, mau mengikat kerjasama dengannya, kendati ikatan itu tidak selalu hitam di atas putih.
Lewat Hipmi, Abdul Latief berhasil mengarahkan sejumlah        besar     Pemuda        untuk    menjadi    pengusaha. Belakangan, Hipmi  menjadi  wadah  yang  amat  digandrungi oleh  ratusan  pengusaha muda  Indoesia.  Banyak  di  antara para pengusaha muda itu adalah anak para pejabat dan mantan  pejabat.  Kesuksesannya mengantar  Hipmi  sebagai sebuah organisasi profesional, menyebabkan ia selalu terlibat dalam pembicaraan atau diskusi tentang pembinaan generasi muda.     Baik     dalam    acara     yang      diselenggarakan    Hipmi, maupun dalam acara yang diselenggarakan oleh organisasi Pemuda    lainnya.    Setelah    lulus    dari     Akademi    Pimpinan Perusahaan (APP), Jakarta, dengan Predikat cumlaude, pada tahun 1963, Abdul Latief mendapat tawaran kerja di Stanvac di Sungai Gerong. Perusahaan asing yang bergerak di bidang eksplorasi minyak itu, akan memberi penghasilan dan karir yang    baik        baginya.        Akan       tetapi,        gurunya        di      APP, menganjurkannya bekerja di Pasar Sarinah. Prospek kerja di pasar  swalayan  milik  pemerntah  itu,  jauh  lebih  baik  di

bandingkan di Stanbac. Sebab, Bung Karno sebagai Presiden RI saat itu, sangat memberi perhatian untuk mengembangkan toko serba ada yang pertama di Indonesia itu.
Anjuran gurunya itu masuk akalnya, lalu ia pun bekerja di Pasar Sarinah. Abdul Latief mendapat tugas di bagian perencanaan. Lewat tugas ini,  Abdul Latief berkesempatan berkeliling mengunjungi beberapa negara, terutama untuk mempelajari perkembangan iklim perdagangan di negara- negara itu. Singapur, Jepang, Eropa, Amerika menjadi negara yang  dijelajahi  pada  waktu  itu.  Tidak  lama  kemudian  ia diangkat    sebagai    Pimpinan    Promosi    Penjualan    dan Pengembangan Eksport PT. Departemen Store Indonesia Sarinah (Pasar Saringah). Ia menimba banyak pengalaman dan pengetahuan. Ia memiliki relasi bisnis yang cukup luas, baik dalam negeri maupun luar negeri. Delapan tahun ia bekerja di Sarinah. Tantangan demi tantangan telah mampu ia selesaikan dengan baik. Dan, ia ingin mencari tantangan- tantangan yang lebih memberikan masa depan yang lebih baik baginya. Seolah-olah Pasar Swalayan Sarinah tidak lagi memberi  prospek  yang  diinginkannya.  Konsep  pemasaran yang diambilnya dari Jepang kurang mendapat tanggapan pimpinan Sarinah. Ia pun mengambil keputusan besar, lalu meninggalkan Pasar  Sarinah  pada  tahun  1971.  Selama  di Sarinah, Abdul Latief termasuk beruntung, karena ia sempat

disekolahkan ke luar negeri. Ia belajar manajemen toko serta ada di Jepang selama dua tahun. Pulang dari sana, ia tidak hanya memiliki ilmu mengolah pasar swalayan, tetapi juga membawa mobil dan sejumlah uang saku. Dengan modal itu, ditambah  relasi  bisnisnya  yang   sudah  sedemikian  luas. Apalagi jabatannya sebagai pimpinan promosi Pasar Sarinah, menyebabkan    ia    banyak    teman    dan    banyak    yang mengenalnya. Itulah yang mendorong dia untuk mandiri dan buka usaha sendiri.
Pada tahun 1971 itu, ia langsung menjadi eksportir barang-barang kerajinan, yang masih dalam skala kecil. Sebagian dari modal yang dimilikinya dipakai untuk membeli tanah  luas  milik  temannya  yang  sedang  butuh  duit.  Pada tahun yang sama, Abdul Latief juga mulai mencoba meminjam kredit  dari  bank  dengan  jaminan  tanah  di  atas.  Kredit komersial Rp. 30 juta itu diperolehnya dari BDN. Ia mendirikan PT. Latief Marda Corporation, bergerak dibidang ekspor impor. Ia dibantu adiknya Abdul Muthalib. Tatkala usahanya sudah mulai  memperlihatkan perkembangan, ia  pun  berpikir  lebih maju lagi. Kebetulan tanah itu  terletak di  jalan Jakarta By Pass, sehingga ketika di jual harganya mahal sekali. Hasil penjualan ini yang kemudian menjadi modalnya mendirikan PT Indonesia Product Centre Sarinah Jaya pada tahun 1973. Nama pasar swalayan ini ada kaitannya dengan tempat asal

dia bekerja. Nama itu secara historis punya arti tersendiri bagi Abdul Latief. Setahun kemudian, pasar swayalan milik Abdul Latief itu berkembang pesat. Ia mondar mandir Jakarta Singapur. Urusannya bukan hanya soal ekspor-impor, tetapi ia sudah mulai terjun di bisnis properti di negara pulau itu. Tahun
1975 ia membuka cabang pasar swalayannya di kota itu. Di sana ia membeli toko dan gedung, harganya tidak semahal sekarang, karena saat itu Singapura baru mulai membangun negaranya.
Akumulasi kekayaan yang berhasil dia kumpulkan selama  sepuluh  tahun  berusaha secara  mandiri,  dia  pakai untuk mendirikan Pasaraya di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Gedung Pasar Swalayan yang masuk kategori mentereng ini, dibangun Abdul Latief pada tahun 1981. Disinilah  tonggak  pertama  yang  ditancapkan  Abdul  Latief untuk mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang pengusaha pedagang    eceran    yang        patut    diperhitungkan.    Sebutan konglomerat – sesuatu istilah yang tak disukainya – sudah mulai melekat padanya. Ia selalu duduk semeja dengan para pengusaha kenamaan lainnya. Bahkan dengan pimpinan puncak pasar swalayan asal tempatnya  kerja pun, ia sudah terlihat memiliki perbedaan. Lebih dari pada itu, Abdul Latief mendapat tempat yang terhormat di mata pemerintah. Sebab, ia    mengangkat    harga    kehidupan    dari    sekian      banyak

pengusaha kecil. Oleh sementara orang ia disebut “Pahlawan pengusaha kerajinan rakyat Indonesia.” Perjalanan usahanya yang baik itu, rupanya tidak selamanya mulus. Pada akhir tahun 1984 Pasaraya Sarinah Jaya kepunyaannya di Blok M terbakar. Inilah percobaan pertama terberat yang dialaminya. Kerugian yang ia derita bukan hanya puluhan miliar, puluhan ribu pengunjungnya setiap hari, terpaksa berhenti sampai bangunan itu diperbaiki kembali. Ia tidak  ingin putus kontrak dengan 2000 produsen kecil yang menyuplai keperluannya. Kesulitan ini, ia hadapi dengan tenang, 1200 karyawannya tidak akan diberhentikan, mereka disuruh Abdul Latief belajar manajemen, komputer, accounting, bahasa Inggris. Untuk program belajar ini, Abdul Latief mendatangkan pelatih dan pengajar    ahli    dari    Singapur        dan    Hongkong.     Yang menggembirakan        Abdul    Latief    adalah        kesediaan    pihak asuransi  menanggung sebagian  kerugian  itu.  Bantuan  dari rekan-rekannya, juga dari pihak pemerintah maupun swasta, sangat menjadi semangat baru bagi Abdul latief untuk memikirkan yang baik buat ekspansi bisnisnya.
Secara perlahan kerugian puluhan miliar rupiah itu, sirna sebagai gangguan pikirannya. Abdul Latief menata kembali  jalur-jalur  bisnisnya  yang  sudah  sempat  terputus. Lalu,  diatas  tempat  gedung  yang  terbakar,  telah  berdiri dengan  megahnya  Pasaraya  Sarinah.  Bangunan  berlantai

sembilan itu luas lantainya 42.000 meter. Pengunjung pasar swalayan itu, ada sekitar 100.000 orang perhatiannya. 40% diantaranya adalah yang berbelanja. Dari tahun ke tahun penjualan di Pasaraya Sarinah naik terus. Dan terus menerus pula memberikan penambahan modal bagi Abdul Latif. Kawasan Blok M dimana Pasaraya ada, menjadi inceran para pengusaha bisnis eceran. Banyak konglomerat berlomba membangun    fasilitas    belanja    di    daerah    itu.    Kelompok Subsentra dan Pakuwon jati sudah membuka Blok M Plaza. Ometraco  Group  membangun  pertokoan  di  bawah  tanah, persis  di  bawah  bekas  terminal  Blok  M.  Itulah  sebabnya, ketika ada tanah seluas 1,4 hektar, dekat Blok M ditenderkan Deplu kepada para pengusaha tahun 1990, puluhan yang datang mendaftar, kendati pengumumannya tidak dilakukan secara terbuka.
Ada sebagian orang menyebut Abdul Latief, Dirut Alatief Corporation, masih aktif sebagai tokoh muda. Padahal, umur pendiri organisasi Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) itu sudah lebih setengah abad. Setidaknya, ada dua alasan kenapa ia masih dianggap aktivis Pemuda. Pertama, dalam berbagai kegiatannya, Abdul Latief selalu terlihat segar dan sangat bersemangat. Kepeloporan dan idealisme    mengangkat    pengusaha    kecil,    terutama    yang berkaitan dengan bisnisnya, sering ia lakukan dengan gaya

orang  muda  yang  mampu  melihat  jauh  ke  depan.  Kedua, Abdul Latief yang penampilannya setiap hari selalu trendy dan modis ini, sangat gemar berolahraga. Sehubungan dengan itu, ia juga rajin menjada kondisi fisiknya, sehingga wajahnya kelihatan jauh lebih muda dibanding usianya.
Abdul Latief memang terkenal lihai menjalin kerjasama dengan banyak orang. Ia sangat dipercaya oleh mitra bisnisnya. Bahkan, rekan bisnis di luar negeri pun, mau mengikat kerjasama dengannya, kendati ikatan itu tidak selalu hitam di atas putih. Lewat Hipmi, Abdul Latief berhasil mengarahkan     sejumlah        besar        Pemuda    untuk    menjadi pengusaha. Belakangan,  Hipmi  menjadi  wadah  yang  amat digandrungi oleh ratusan pengusaha muda Indonesia. Banyak di antara para pengusaha muda itu adalah anak para pejabat dan    mantan        pejabat.        Kesuksesannya    mengantar    Hipmi sebagai  sebuah  organisasi  profesional,  menyebabkan  ia selalu terlibat dalam pembicaraan atau diskusi tentang pembinaan    generasi    muda.    Baik     dalam     acara     yang diselenggarakan    Hipmi,      maupun    dalam        acara      yang diselenggarakan oleh organisasi Pemuda lainnya. Cepat berpikir, gesit dalam bertindak adalah ciri khas Abdul Latief. Pernah suatu kali, penjualan barang-barang kelontong dalam pasar  swalayan kepunyaannya, naiknya  seret  sekali.  Yang datang  banyak,  yang  membeli  sedikit.  Lalu,  Abdul  Latief

mempelajari kenapa demikian. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan    dan    dari    penganalisaan    data    yang    ada,    ia berkesimpulan: daya beli masyarakat masih rendah. Solusinya
: daya beli masyarakat harus ditingkatkan. Berarti harus ada tambahan penghasilan bagi masyarakat. Mulai saat itu, ia pun mengajak    orang    untuk    berusaha    sehingga    pendapatan bertambah. Lalu, Abdul Latif mendirikan Hipmi pada tahun
1972    dan     ia    menjadi    Ketua    umum    yang     pertama.    Ia mengarahkan para anggota Hipmi itu untuk segera membuka usaha, sekalipun usaha itu dalam ukuran paling kecil. Dari hasil  binaan  yang  dilakukannya,  maka  banyak  pengusaha kecil memproduksi barang-barang kerajinan tangan, mencari barang atau produk yang bisa dijual dan jadi uang, sehingga pendapatan          bertambah.        Abdul        Latief        membantu      para pengusaha        kecil    untuk     menitipkan    barangnya    di    pasar swalayan    kepunyaannya.        Bahkan,      Abdul        Latief        juga membantu para pengusaha kecil itu mengekspor produknya ke luar negeri. Lewat langkah-langkah itu, ekspor nonmigas naik. Devisa nasional bertambah, pertumbuhan ekonomi beranjak naik, tingkat beli masyarakat otomatis jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Komitmen Abdul Latief membesarkan pengrajin kecil, disamping karena memang dibutuhkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat terhadap produk pasar swalayan, juga

untuk    memenuhi    permintaan        Ir.    Ginanjar        Kartasasmita, menteri  muda  urusan  peningkatan  penggunaan  produksi dalam negeri saat itu, untuk meningkatkan produksi nasional. Sampai sekarang Abdul Latief masih tetap konsisten terhadap komitmen itu. Kegiatannya mendorong dan mengembangkan industri kecil itulah, maka ia dipercaya sebagai Ketua kompartemen perdagangan dan koperasi Kadin Indonesia periode 1979-1982. Bagi Abdul Latief, adanya kesenjangan antara pengusaha kecil dan pengusaha kuat, tidak lepas dari adanya perbedaan pengusaha pribumi dan pengusaha non pribumi        di    masyarakat    kita.    Pengusaha    pribumi    sering diartikan sebagai pengusaha lemah dan kecil sehingga perlu dilindungi dan diangkat. Ia melihat perbedaan pengusaha pribumi dan non pribumi sebagai sesuatu persoalan yang serius. Sehingga ia meminta pemerintah untuk menangani persoalan itu dengan cepat agar kesenjangan sosial itu tidak menimbulkan gejolak sosial. Menurut Abdul Latief, pengusaha kecil yang umumnya pengusaha pribumi tidak perlu diangkat dan  dilindungi, tetapi  didorong dan  dikembangkan. Apalagi pada era globalisasi ini, negara-negara 4 macan Asia adalah hampir semuanya non-pribumi. Hal itu dikuatirkan menjadi masalah di kemudian hari, sebab, para pengusaha dari negara yang maju secara ekonomi itu, pasti akan lebih percaya menjalin  bisnis  dengan  pengusaha  sesama  non  pribumi.

Sehubungan  dengan  itu,  Abdul  Latief  melalui  makalahnya yang berjudul “Konsep Mendorong dan Mengembangkan Pengusaha    Pribumi,”    ia    mengajukan    4    dasar    langkah pemecahan     masalah        tersebut.    Pertama,        Political    Will pemerintah membantu pengusaha pribumi. Kedua, Konsep yang  cocok  untuk  mengembangkan  usaha  pribumi  yang sejajar dengan non pribumi, bukan konsep Alibaba. Bank pemerintah harus memprioritaskan pemberi kredit kepada pengusaha pribumi. Keempat, semua proyek pengadaan barang dan jasa pemerintah sepenuhnya diserahkan kepada pengusaha pribumi.    Hal itu disampaikan Abdul Latief pada Seminar  Pribumi  dan  Non-Pribumi  yang  diselenggarakan Editor pada HUT-nya yang ke-4 tahun 1991 yang lalu.
Kini,    Abdul        Latief    terus    melaju     dengan        Alatief Corporation.        Makin        banyak    mitranya    makin    banyak perusahaan kecil yang dibimbing dan dimajukannya. Bidang usahanya sudah merebak ke berbagai jenis usaha, tidak lagi hanya pada bisnis retail seperti yang ditekuninya ketika mulai berusaha. Dari puluhan jenis usaha, Pasaraya lah yang menjadi    tulang    punggung    bisnisnya      Abdul         Latief mengkoordinir  pengawasan  semua  unit  usaha  itu  melalui Alatief Investment Corporation. Gedung Sarinah Pasaraya di Blok M, Jakarta Selatan, adalah salah satu pertokoan yang megah di Ibukota. Di gedung berlantai sembilan itu, terlihat

segala  macam  keperluan  rumah  tangga.  Baju-baju  yang trendy dan modis, mulai dari yang agak murah sampai yang paling  mahal,  tersedia  di  supermarket  yang  nyaman  itu. Ribuan jenis produk kerajinan tagan dari industri kecil / industri rumah tangga sampai produk-produk elektronik, ada di tempat itu. Dari pagi sampai malam, para pramuniaga yang ramah selalu  menyapa  melayani  para  pembeli  di  gedung  yang bernilai Rp. 200 miliar itu. Abdul Latief menyesalkan berdirinya beberapa pusat pertokoan modern di Jakarta, yang jelas-jelas mematikan pengusaha kecil dan tradisional. Industri kecil itu sepertinya tidak mendapat tempat untuk hidup, sebab ia memang tidak mempunyai kemampuan bersaing dengan pengusaha modal besar. Gejalanya, memang pengusaha sekelas raksasa masuk ke pasar tradisional. Sehingga pengusaha kecil itu tergusur atau tenggelam. Mestinya pemerintah mencegah para pemodal kuat itu untuk tidak sembarangan    masuk    ke     pasar    yang    pangsa    pasarnya merupakan lahan pengusaha kecil. Ketika salah satu pasar swalayan   terbesar   di   dunia   dari   Jepang,   yaitu   SOGO, membuka  cabangnya  di  Indonesia,  Abdul  Latief  termasuk salah seorang yang bersuara keras menentang kehadirannya. Alasan penolakannya, karena saat itu beredar isu modal asing akan    masuk    ke    bisnis    eceran     di    Indonesia.        Ia    juga mempertanyakan  kenapa  Sogo  memasukkan  805  produk

impor,    justru    bukan    memajukan    produk    dalam    negeri. Padahal, jauh sebelum itu, Abdul Latief memang sudah terikat pada komitmennya untuk memajukan produksi nasional. Menurut pikirannya, pemodal kuat dalam negeri saja sudah mulai mengganggu kehidupan pengusaha kecil, apalagi kalau pengusaha yang datang itu dari luar negeri. Bukankah setiap kali  Sogo  masuk  ke  suatu  pusat  pertokoan, pesaing  yang sudah  ada  biasanya  minggir.  Tapi  ternyata  bukan  modal asing, dan pangsa pasar Sogo pun juga tidak sama, akhirnya Abdul Latief tidak terlalu keberatan lagi. Memang Abdul Latief mempunyai pertokoan di Blok M, tetapi tidak di pusat pertokoannya. Pasaraya Sarinah menjadi pendukung Pasar Tradisonal Blok  M.  Konsep  yang  dikembangkan Pasaraya, menurut Abdul Latief, membeli tanah, membangun gedung, dan membuat kavling pasar baru. Kalau masuk ke pusat pertokoan, memang cepat maju, tetapi itu intervensi namanya, membunuh orang lain, kata Abdul Latief.
Dampak konsep yang dikembangkan Abdul Latief, pasar    swalayannya    tidak    sekencang    kemajuan    pasar swalayan bermodal kuat itu. Untuk mengatasi dampak ini, ia melakukan sesuatu secara kreatif, agar orang mau datang dan akhirnya berbelanja mengembangkan produk dagangan model yang menarik. Disain baju misalnya, dilakukan dengan mode dan disain yang paling akhir, persis sama dengan mode yang

dikembangkan di negara-negara yang kaya mode seperti Perancis. Ini tidak terlalu sulit bagi Abdul Latief, karena ia sendiri juga penggemar model. Itulah sebabnya, setiap hari, ia selalu tampil dengan busaha yang berdisain menarik. Di segi lain, disamping keramahan pelayanan, bentuk dan disain ruangan pertokoan menjadi faktor yang harus diperhatikan penataannya. Menurut Abdul Latief, perusahan bentuk dan disain ruangan pertokoan, dilakukan terus menerus untuk menghindari kebosanan para pengunjung. Kalau perlu, sekali dalam    tiga    tahun,    dilakukan    renovasi-renovasi.    Melalui penataan pasar swalayan dengan konsep tidak dipusat perbelanjaan tradisional itu, Abdul Latief mengembangkan tiga macam filosofi. Pertama, pengusaha kecil adalah bagian dari kemajuan jenis usaha yang berskala lebih besar. Karena itu, yang kecil memang harus diperhatikan dan diberi tempat yang wajar. Kedua, pengelolaan pasar swalayan harus selangkah lebih maju dari keinginan konsumen. Artinya, yang disediakan di pasar swalayan tidak hanya sekedar yang diinginkan oleh konsumen. Tetapi, apa yang menjadi keinginan konsumen berikutnya. Dalam hal ini perlu antisipasi, sebab situasi terus mengalami perubahan dan perkembangan. Ketiga, lewat berbagai jenis produk dagangan dengan segala inovasinya, dan kreativitas menata produk jualan itu di pertokoan, serta imajinasi  mendesain  bentuk  ruangan  yang  menarik,  akan

mencerminkan identitas bangsa. Budaya bangsa terlihat dengan mudah melalui pembuatan dan penjualan produk di pasar swalayan itu.
Sukses di pasar swalayan, ia membuka pembibitan benur di Bulikumba, Sulsel. Usaha itu menghasilkan 100 juta benur pertahun. Abdul Latief juga membuka tambak udang seluas 120 hektar dengan hasil 4 ton per hektar. Dua sampai tiga kali panen dalam setahun. Ia mengelola beberapa perkebunan, membuka  usaha  penerbitan buku,  dan  usaha jasa periklanan, asuransi dan berbagai jenis bisnis yang lain. Sambil melakukan ekspansi bisnis, Abdul Latief juga tertarik pada bidang pendidikan dengan tiga alasan. Pertama, ia memang membutuhkan sejumlah besar tenaga terampil di berbagai bidang. Kedua, ia ingin ikut berusaha meningkatkan kecerdasan warga negara umumnya dan generasi muda khususnya. Ketiga, Abdul Latief adalah pernah menjadi guru, malah    menjadi    Direktur    Akademi    Pimpinan    Perusahaan Departemen Perindustrian, tempat ia belajar. Salah satu Sekolah yang ingin ia dirikan adalah Sekolah Politeknik. Pendirian  Sekolah  itu  merupakan salah  satu  kegiatan  dari Yayasan Abdul Latief yang didirikan dan diketuainya sendiri. Dari berbagai aktivitasnya yang begitu padatnya. Abdul latief selalu berusaha menjaga kesehatan fisiknya. Setidaknya, ia melakukan general check up dua kali setahun. Secara rutin ia

olahraga joging, senam, renang, teknis, dan kalau ada waktu main golf. Ia selalu olahraga pagi, terutama untuk menghindari ketegangan-ketegangan. Ia ingin hidup dalam kondisi segar, fit, energik. Tubuhnya padat, gesit, perut tidak buncit.
Itulah    Abdul     Latief    yang    mencatat    kesuksesan- kesuksesan  selama  hidupnya.  Mulai  dari  Predikat  tamatan cum laude di APP, kemudian menjadi pimpinan promosi Pasar Sarinah, keliling berbagai negara, memberanikan buka usaha sendiri, maju, sukses, lalu gagal, sukses dan berkembang lagi, sampai menjadi pengusaha yang besar seperti sekarang ini. Bagi Abdul Latif, sebenarnya masih ada 25 tahun lagi waktu buatnya untuk berkiprah di  dunia bisnis. Namun, ia  sudah memasang ancang-ancang untuk memperbesar porsi kegiatan sosial budaya lewat yayasannya. Ia juga telah mempersiapkan generasi    keduanya    untuk    melanjutkan    dynasty    Alatief Investment Corporationnya. Abdul Latief adalah lambang kesuksesan pedagang berdarah Minang di zaman orde baru. Berasal dari salah satu suku yang sudah terkenal gigih berdagang selama beradab-abad.


 


0 komentar:

Posting Komentar

 

Contact

Debu Jadi Intan Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template